Senin, 04 Juni 2012

Kisah Mitssaqan Ghalizan

Assalamu'alaikum...

Dear diary,
kali ini akan saya coba kembali meluangkan waktu untuk melatih hobby menulis...yang sempat tertunda beberapa bulan karena terjebak oleh rutinitas baru menjadi seorang pekerja...

hmm, apapun yg terjadi..ini sudah menjadi pilihan tuk bekerja :)
jadi, tak ada alasan untuk menyalahkan keadaan! no excuse! :)

kali ini mencoba membuat kajian materi yang sedikit berbeda :)

...Suami-Isteri...

ikatan keduanya dibangun dari sebuah perjanjian bernama, "mitssaqan ghalizan", yaitu perjanjian yang kokoh atau dapat diartikan sebagai perjanjian 'berat'.

(Q.S:An Nissa:21) 

perjanjian antar kedua pihak dibangun dan didasarkan atas ridha-Nya melalui perjanjian ini, dengan mengikatkan tali silaturahmi antar dua keluarga.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kemu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir"
(Q.S:Ar-rum :22)

Pernikahan sebagai komitmen antar keduanya dihadapan Illahi bukan sembarang komit,
tetapi islam pun mengaturnya Lho...

Di indonesia dapat kita temui aturan lengkapnya dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Pasal 2
Perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Pasal 3
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

pelaksanaannya pun harus melalui regstrasi atau pencatatan oleh Negara.
meskipun menurut pasal 4 pernikahan sah apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dilakukan berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing.

namun, diatur selebihnya berdasarkan pasal 5, "Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat"
pasal 5 ini memberikan manfaat atau ada makna dibaliknya, pencatatan dilakukan semata-mata untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi pihak yang berkaitan sebagai akibat hukum dari adanya perbuatan hukum melakukan hub. perjanjian mitssaqan ghalizan ini. terutama bagi isteri atau suami ybs.

salah satunya, adanya anak yang dikandung atau dilahirkan sebagai subjek hukum tsb memiliki kepastian hukum dan perlindungan hukum atas haknya sebagai anak dari kedua mempelai yang menikah tsb (orang tuanya).
Subjek hukum: pendukung hak dan kewajiban sejak dilahirkan atau dalam kandungan.
'dalam kandungan' ini berupa 'recht fictie' meskipun sang anak belum dilahirkan, namun anak tsb telah memiliki hak nya sebagai anak.
misalnya dalam kasus, sang anak masih dalam kandungan namun sang ayah kandung (secara biologis) meninggal dunia sebelum sang anak dilahirkan. Anak tsb telah memiliki haknya sebagai ahli waris dari sang ayah yang telah meninggal terlebih dahulu sejak dirinya sebelum dilahirkan.

itulah salah satu fungsi pasal "keharusan pencatatan oleh negara",

atau kasus lain, ketika dihadapkan pada permasalahan seorang isteri sah (secara agama) namun tak dicatatkan perkawinannya oleh negara menuntut haknya sebagai isteri dalam hal untuk keperluan hukum seperti mengajukan gugatan cerai atau tuntutan hak nafkah.
jika tak tercatatkan oleh negara bagaima haknya dapat diakui?
karena dalam hal ini seolah-olah dianggap antar keduanya (suami isteri yang menikah hanya secara agama) tidak melakukan perbuatan hukum berupa pernikahan.

banyak hal dan kasus contohnya yang kita temui, seperti yang terjadi pada tokoh2 public figure, yang dihadapkan pada permasalahan adanya tuntutan kepada sang ayah kandung (biologis) untuk memenuhi nafkahnya atau sekedar melakukan pengakuan bahwa dirinya ayah kandung dari anak ybs atas adanya permohonan ke pengadilan untuk didapatkannya akta kelahiran dan atau untuk keperluan hukum sang anak tsb.

nah, begitulah sedikitnya tentang perjanjian perkawinan dan pentingnya pencatatan perkawinan oleh negara.

tapi-tapi...
untuk yang mau ancang ancang menikah nih. selain kita meninjau makna dibalik sebuah 'komitmen' itu...
coba di cek-cek Rukun dan Syaratnya ya...

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI):

untuk melakukan suatu pernikahan setidak-tidaknya harus memenuhi syarat, adanya:
1. Calon memperlai Suami,
2. Calon mempelai isteri,
3. Wali nikah, 
4. Dua orang saksi, dan
5. Ijab dan kabul.

Ad.1 dan Ad.2  dimaksudkan untuk membatasi ketentuan calon mempelai haruslah berjenis kelamin lelaki dan perempuan, karena negara tidak memperbolehkan adanya pasangan mempelai yang berkelamin sejenis (homo/lesbi)

Ad.3 wali nikah terbagi atas dua macam:
- wali nasab, yaitu wali yang berdasarkan atas hubungan darah (ditinjau dari kedudukan sedarah dari mempelai wanita)
- wali hakim, dalam hal wali nasab tidak ada atau tidak dimungkinkan  hadir.

Ad.4 Saksi haruslah muslim dan baligh, tidak terganggu ingatannya, dan tidak pula tuli atau tunarungu.

Ad.5 dalam pembacaan dan pelaksanaan ijab dan kabul dilakukan secara langsung, beruntun dengan tanpa selang waktu.

Lalu, ada penambahan berupa syarat Adanya sejumlah mahar bagi sang isteri.
ehem ehem nii...tentang mahar:
"Wanita yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya"
(HR. Ahmad Baihaqi dan Hakim)

nah itu deh secara umum tentang Suami isteri untuk membentuk keluarga nantinya berawal dari sebuah 'komit' berupa 'Mitssaqan ghalizan'

ehem, ehem...untuk para kaum adam yang lagi lirik2 searching2 nih...
"Wanita itu dinikahi karena: hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya agar kamu selamat" 
( HR. Bukhari)
*untuk motivasi kaum hawa juga nih ^_~

ehem, ehem...untuk para orang tua yang hendak menikahkan anaknya, bisa dipertimbangkan nih...
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” 
(HR. At-Tirmidzi)

pernah suatu waktu membaca artikel, bahwa sesungguhnya nikahkanlah anak perempuan dengan seorang lelaki yang beragama, karena kelak jika ia tidak menyukai anak perempuan tsb, ia tidak akan berbuat aniaya terhadapnya.

hmm, hawa boleh melihat mungkin pertimbangan ketampanannya atau kemapanannya tapi jangan lupa akhlak dan iman nya ya ^__^

karena kelak Adam yang akan menjadi pemimpin dalam negara kecil yang dibangun bersama.
"Orang yang paling sempurna imannya diantara orang-orang yang beriman adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut  (berkasih sayang) pada keluarganya" 
(HR. Tirmidzi)
*family man on family role mode, nice! ^__^

Katanya-katanya...
pilar bahagia dalam rumah tangga:
-suami/isteri setia
-anak2 yang berbakti
-lingkungan tetangga dan sosial yang baik
-rezeki yang dekat

"...Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. perhiasan yang paling indah adalah isteri yang shaleha, suami yang adil, dan anak-anak yang mendo'akan kedua orang tuanya"


untuk yang masih menunda-nunda niatan ingin menikah nihh...
*Hadits*

"Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibir (lisan)nya dan di antara dua paha (ke-maluan)nya, aku akan jamin ia masuk ke dalam Surga.” 

"Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah, (2) budak yang menebus dirinya agar merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.”

"...dan pada persetubuhan salah seorang dari kalian (pasangan yang menikah) adalah shadaqah…”

" Tidak pernah disaksikan dua insan yang menjalin cinta kasih laksana dalam pernikahan (sebuah ikatan perkawinan)" 

"Apabila seorang hamba telah menikah, maka dia telah menyempurnakan separoh agamanya, hendaklah dia bertaqwa kepada Allah tentang hal-hal yang masih tersisa"

"Barangsiapa dikaruniai Allah wanita (istri) shalih, maka sesungguhnya Dia telah menolong separoh agamanya, hendaknya dia bertaqwa kepada Allah dalam separoh agamanya yang kedua"


hmmm....gimana tuh?
change your mind? ^__~

tetep istiqamah dalam doa dan usaha ya, yg udah memiliki niatan namun...masih belum direzekikan untuk menikah...
*sambil nunjuk diri, tersipu malu ^__^ hehe

ingat terus janji-Nya dalam penantian dan upayamu ya Adam dan hawa...
janji di Q.S. 24:26 pastinya...
terus berusaha dan berdoa, namun hasil serahkan kepada-Nya...

karena, kalau kata bahasa sunda mah...
"Jodo, bagja, cilaka, pati nanging Gusti Allah SWT anu kawasa" ^__^


###semoga bermanfaat###


Nb: CMIIW (Correct Me If I Wrong)

Wassalam.

Harianku, 05-06-12
 

Sabtu, 02 Juni 2012

Hari ini tentang 'Kamu'


Assalamu'alaikum...

Dear my Blog,


“Pernikahan”
Adalah sebuah kata…berjuta Tanya dan ungkap bagiku,

Pernahkah kamu merasa ketika orang yang kamu hormati dan sayangi sekedar menyatakan atau mempertanyakan…

Nenek:
“De’gita nenek berharap masih diberikan kesempatan umur oleh Allah SWT untuk menyaksikan de’gita menikah…nenek selalu mendo’akan disetiap shalat tahajud, agar de’gita bisa segera menemukan jodohnya…”

Hmm , hatipun luluh mendengar itu…
Hanya, “aamiin…” yang terungkap…

Ayah:
Ketika sedang sibuk memeriksa tumpukan undangan di meja kerjanya, “teh kamu kapan?”
“Tanya saja pada Allah…teteh juga ga tau, pah…”, hati dibuatnya menciut.

Atau pernahkah kamu merasakan sesuatu hal disaat

-melihat teman sebaya menikah (entah teman SD,SMP,SMA,kuliah, kerja) atau bahkan umurnya dibawahmu
-melihat pasangan muda yang baru menikah berdampingan, bergandengan tangan dengan mesra
-melihat sepasang suami isteri shalat berjamaah bersama
-melihat seorang isteri yang dengan perhatian melayani kebutuhan suaminya, entah itu memasak, mencuci atau membukakan sekedar kaus kakinya
-melihat seorang suami yang dengan lemah lembut menyayangi isterinya
-melihat seorang perempuan yang tengah mengandung
-melihat seorang Ibu menimang dan menyayangi anaknya
-melihat seorang lelaki mengasuh anaknya, mengajari anaknya membaca, belajar bersepeda, atau bermain
-melihat shaf berjamaah dengan formasi: Bapak, Ibu, dan anak

Aku melihat itu semua…lalu?

Ada rasa dan asa yang tertinggal…

Ya Robb, aku tahu…sesungguhnya asa dan rasaku adalah rahasia-Mu yang seorang manusia pun takkan mampu menyingkap tabirnya…semuanya masih tersimpan baik menjadi rahasia-Mu…

Janji-Mu…
QS:24:26
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan baik (pula)…”

Yang membuat aku bertahan dan berupaya semampuku…

Hanya Janji-Mu yang membuatku masih tetap berupaya mempertahankan prinsipku…

Wahai Maha Pengasih, dengarlah lantunan rintihanku dalam setiap do’a dan sujudku,
Sungguh, aku hanya seorang manusia yang tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu,
Hanya karena Engkau, karena Engkaulah satu-satunya dan sebaik-baiknya penolong dan pelindungku…

Wahai kekasih hati, yang kelak ku tambatkan hatiku padamu…
Ada kamu dalam setiap do’a  dan sujudku…tahukah kamu?
Apakah begitupun dirimu?

Wahai calon imamku, yang kelak engkau nahkodai perahu hidup kita…
Kini ku masih belajar tentang kehidupan untuk bekal perjalanan kita nanti…tahukah kamu?
Apakah begitupun dirimu?

Wahai Adam, yang aku menjadi hawa mu kelak…
Prinsipku sedang ku pertahankan untuk menjadikan engkau yang pertama dan terakhir…tahukah kamu?
Apakah begitupun denganmu?
...jadilah yang pertama, yang terakhir, dan yang terbaik untukku bagi-Nya…

Jadilah lelaki yang pertama…terakhir…

Ku cintai,
Ku sayangi,
Ku hormati,
Ku baktikan hidupku,
Berkomitmen denganku,
Menerimaku apa adanya,
Menjadi imamku,
Menjadi nahkodaku,
Menjadi pembimbingku,
Menjadi pengingatku,
Menjadi motivatorku,
Menjadi penghiburku,
Sahabatku & kekasihku,
Tambatan hatiku,
Tempatku berlindung,
Tempatku berlabuh…

….Jadilah  sebaik-baiknya dirimu 'SUAMI ku kelak', tuk menjadi yang terbaik bagi-Nya…

aku, tak berharap yang sempurna,
tapi seseorang yang bisa menyempurnakan cintaku kepada-Nya dengan segala kekurangan yang ku miliki...

Kini, kuatkan aku dengan IMAN dalam penantiannya ya Rabb…
Kini, cukupkan aku dengan-Mu…hanya dengan-Mu dalam penantiannya ya Rabb…


Wassalamualaikum.

Catatan harianku,
2012-06-03.

Selasa, 31 Januari 2012

Sekilas ku tatap wajah ibu kota

Assalamu'alaykum...
dear Diary,

Dahulu, ketika masih kecil hanya beberapa kali mengunjungi Jakarta...
1...2...3...ya masih bisa dibilang hitungan jari...

Jakarta,
mungkin hanya karena lebih tepatnya alasan Tamasya...terlebih2 tamasya rombongan sekolah...
entah itu Ancol..Taman Mini...Dufan...pada umumnya...

beberapa kali pula mengunjungi sanak keluarga, yang kebetulan bertempat tinggal disana..
seputar sleepi saja yang diketahui...
rasanya ketika dulu masih belum mengerti...
kota Jakarta ini adalah tempat tamasya yang mewah bagiku,

kini...

melihatnya bukan hanya saja menyimpan keceriaan, kegembiraan karena kenangan yang tersimpan dalam benak...

kini...

semakin berulang kali Ibu mengajak ke Ibu Kota ini seringnya lebih pada alasan 'berbelanja',

sekilas...lalu ku tatap wajah2 yang mewarnai kota Jakarta ini...

Gedung2 menjulang seolah2 hendak menggenggam indahnya langit,
puluhan...ratusan...kendaraan berlalu lalang menambah warna kota ini,
belum lagi jalanan yang cukup membuat pusing oleh jalur2 yang menunjukkan ketidakmatangan perencanaan..

disudut jalan ku temui gambaran yang menggerakkan hati..
ditengah keramaian kendaraan di tol dalam kota, seekor anak kucing lusuh, terdiam dalam kebisingan kota..
ia bsendirian dan nampak murung dari wajahnya...rasanya ingin ku rengkuhnya dan membawanya pulang..
tapi mengingat dirumah banyak 'sesosok itu' yang masih butuh perhatianku, 
aku mengalihkan pikiran pada yang lain seraya berdoa pada Robbi..

"wahai Sang Maha Terkasih, lindungi ia selalu meski ia sendiri di dunia ini...meskipun dunia ini tak ramah baginya..."

hmm...bersyukurlah wahai 'sesosok' dirumah...mereka lebih beruntung, karena masih bisa hidup nyaman...

lalu pikiran berputar kembali pada mengenai diri,
analogi 'sesosok' dan diri ini...

''beruntunglah kamu...bersyukurlah...terlebih kamu bukan binatang...dan kamu manusia yang diberikan banyak kenyamanan oleh Rabb dibandingkan yang lain, yang belum tentu bisa merasakan apa yang kamu rasakan dg apa yg kamu miliki..."

hmm...

kendaraan terus melaju pada tujuan..
ketika langkah memasuki pertokoan...
lalu mengamati kemajemukan yang tercipta secara alamiah...
beragam manusia yang memadati...ragam ras, suku bangsa, nampak jelas pada ciri fisik secara alamiah...

kebiasaanku mengamati tak mampu ku elakkan,
sambil membawa jinjingan 'hasil keperluan ibu' ku amati...keberagaman ini...

ragam bahasa...

ragam warna...

ragam bentuk..

ragam wangi...

ragam rasa...
ku dengarkan berbagai bahasa disini,
ku tatap baik2 keindahan warna warni dan bentuk2 yg kulihat, mulai dari pakaian, tas, sepatu, jam, dan lain2nya..maklum perempuan itu tak tahan jika melihat keindahan warna dan bentuk yg menarik hati, rasanya sudah naluri..hehe
ragam wewangianpun ku cium, mulai dari semerbak pewangi tubuh buatan sampai pewangi tubuuh alami (hehe), dan tak kalah wewangian yang menggugah rasa pengecap dan cacing2 perutpun berkata...hehe

tafakuri...tafakuuurr...
ini kah keindahan dunia yang terkadang melupakan tujuan akhir kita tuk berlabuh nanti?
lupa bahwa waktu yang semakin terus mendekat..bukan bertambah!

memang benar adanya menahan diri dari hawa nafsu akan keduniaan adalah yang terberat tuk dijalani...

keduniaan, membuat seketika kita merasa akan hidup lebih lama...
dan akhirnya kufur...lalu takut akan perjumpaan dg kematian...
naudzubillah...

bahkan beberapa waktu lalu bersama Ibu mencari2 mushala di pertokoan besar, sulitnyaa...minta ampuun..
hmm,

Hmm, Jakarta bercerita dalam serpihan hidupku...
entahlah pandangan mengenai Jakarta dalam benakku,,

"Ladang Subur Lapangan Kerja, tempat hiburan, berbelanja"

bangunan2 tinggi dan mewah, kendaraan2 mewah, tempat tamasya, padatnya arus jalan dg jalur yang kurang matang perencanaannya, jembatan2 layang dan besi2 jalan yang mulai menua...ditatap oleh langit yang menjadi saksi Jakarta ini...tidakkah engkau letih dg semua itu?

apakah..
"manusia terlantar pinggiran kota, sungai2 yang meluap oleh ulah sampah2 yang terabaikan, kriminalitas yang kian meningkat karena lagi lagi himpitan ekonomi, degradasi moral" cukup membuatmu kuat menahannya untuk tetap tegak engkau berdiri sebagai IBU KOTA negeri ini?

melihat masjid2 kokoh dg kubah2 yang nampak anggun diantara berbagai gedung yang mencakar2 langit, menambah kemegahan pesonamu laksana savana dipadang tandus..menyegarkan jiwa2 yang letih tuk kembali kejalan-Mu, merindu-Mu, mengingat-Mu...

hanya dengan menyungkurkan seraut wajah kepada-Nya dg syukur..
dan menengadahkan kelemahan diri bertumpu pada lengan2 yang letih dan terus mencoba bersabar...berharap pada-Nya...

Jakarta, inilah sekilasku tentangmu...

"Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain malas, dan bermimpi ketika orang lain berharap" 
( William A. Ward)


Wassalam.
_ dari catatan harian, 01-02-12_

Kamis, 26 Januari 2012

'Tugu Tani' bercerita,,,

Dear Diary,
Hari ini nuraniku berkata kembali...

Hatiku bergetar dan tak terasa air mata tak mampu kubendung disaat gambaran2 tragedi kecelakaan ‘Tugu Tani’...meskipun tak kualami secara langsung, tapi begitu terasa...
Disaat sesosok raga manusia bergelimpangan tak berdaya, membujur kaku, membisu, seakan nyawa meregang...hmm ya Allah...

Tak kuasa ku melihat tayangan ketika seorang ayah memeluk anaknya dg lembut dan penuh harap, berharap ia mampu lebih lama bersama dg anaknya di dunia ini...tak sedikit ku dengarkan lantunan kalimat syahadatMu diperdengarkan oleh orang2 sekitar yang menyaksikannya mengiringi kepergian jiwa yang suci bertemu dg sang Maha Kasih...hmm yaa Allah...

Sesungguhnya, ketika engkau sudah berkehendak, tak kan ada yang mampu menghindar...tetapi manusia terkadang mempertanyakan ‘Mengapa ini terjadi’...bukankah diluar kehendak mereka, engkau panggil mereka dg cara yg tragis seperti itu..jika boleh memilih, mungkin semua manusia ingin dipanggil olehMu dg cara yang baik2...tidak meninggalkan luka bagi yang ditinggalkan.

Tak terbayangkan olehku yaa Robbi, jika aku yg mjd mereka...apakah masih mungkin sempat untukku menegakkan kalimat2-Mu disaat meregang nyawa, kalimat penutup mengakhiri pertemuan di dunia ini.
Ataupun membayangkan aku menjadi orang terkasih yang ditinggalkan...hmm yaa Robbi...rasanya aku tak sanggup...entahlah...

Itukah ujian bagi umat-Mu yang engkau kasihi?
Rasanya hati tersyat, beberapa kali melihatnya...

Ketika seorang pengunjung rumah sakit menjenguk korban, seorang perempuan yg telah bersuami. Lalu dipanggillah sang suami yang dengan tegar meski raut kesedihan dari wajahnya tak mampu berbohong, ditanya oleh pengunjung tsb, “selain isteri anggota keluarga bapak masih adakah yg mjd korban?”.

 “ada, anak saya...”, jawabnya.

“lalu, bagaimana keadaanya?”, sambung pengunjung tsb bertanya kembali.

“sudah meninggal...” seraya raut kesedihan semakin membungkam dalam wajahnya, tertahankan oleh ketegaran yang ia bentengi.

“anak ke berapa pa?” tanya pengunjung itu kembali.

“anak pertama,,,” luluh lantah rasanya ketegarannya dengan air mata yang mulai menghiasi wajahnya.

“insyaAllah pa nanti bertemu di syurga ya..”. semakin memecah haru isak tangis dari sang ayah tsb.

Yaa robbi...seakan2 aku merasakan apa yg bapak tsb rasakan, meskipun aku bukan seorang perempuan yang telah mempunyai anak, tetapi sungguh rasanya sakit tak terperi jika aku yang menjadi orang tua dari anak tsb.

Anak yg dg penuh kasih dan sayang ditunggu2 kehadirannya sejak dalam kandungan sang ibu, lalu terlahir didunia sbg pelengkap kebahagiaan orang tua, dg sabar dan jerih payah keduanya membesarkan, lalu secara tiba2..melihat dg mata kepala sendiri saat nyawanya meregang, Engkau panggil...

hmm, hati mana yang tak sakit, mungkin rasanya seperti hari itu adalah akhir dunia baginya...anak, yg menjadi buah hati, penyemangat hidup, pelengkap kebahagiaan, pengobat kesedihan dan kerinduan kedua orang tua nya...

“insyaAllah, Allah gantikan dg kebahagiaan yg lebih baik” seraya pengunjung tsb berdoa tuk menguatkan kembali jiwa yang rapuh karena kehilangan itu.

penantian akan hadirnya sang anak berakhir dg perjumpaan yg singkat...

Meski hujatan mengaum dari berbagai pihak atas kejadian ini, ujian ini,,,
Meski hukuman dunia mendera raga2 yang ‘bersalah’...
Itu semua takan mampu mengembalikan jiwa2 yang hilang, yang telah kembali kepada Sang Maha Pemilik.

Dunia yang terasa tak adil ini hanya mampu menghempaskan dera bagi raga2 yang bersalah, keadilan yang sejati biar Dia yang berkata. Kebenaran dan keadilan pasti kan terungkap dg sendirinya, tergerakkan ke jalan yang sesungguhnya oleh kehendak-Nya melalui ‘tangan2Nya’.

“berkatalah Kun, maka terjadilah” tak ada satupun jiwa yang mampu menghindarinya.

Hmm, Ujian,,,
Setiap manusia memilikinya, hanya saja masing2 memiliki takaran yg berbeda, sesuai dg kemampuannya masing2...

Sabar itu tiada berbatas...meski sulit, waktu mengajarkan tuk mencobanya...
Ikhlas itu pengorbanan...meski sulit, waktu juga yang menghapus ketersakitan atas pengorbanan itu..

Dari peristiwa ini aku belajar,
Yaa robbi, maafkan aku yg selama ini mengeluhkan berjuta masalah yang kualami..padahal diluar sana  banyak umat-Mu yang jauh lebih perih ujian yang dihadapi.

“Nikmat Robb-Mu manakah yang kamu dustakan?”

Wahai jiwa2 yang dirindukan robb Terkasih,
Tibalah disaat engkau harus kembali kpdNya,
Ragamu yang ketersakitan, meregang, biarlah terobati dg sentuhan lembutNya jiwaMu menghempas,
Pergi bersama cinta dan kasih orang2 yg mencintai dan mengasihimu,
Semoga engkau tenang disana,
Meski berjuta kedengkian, kesedihan, kehilangan, dan  rasa sakit, mengiringi kepergianmu...
Bahagialah disana Karena perjumpaan dg-Nya adalah tempat yg terbaik utkmu wahai jiwa2 yang terkasih...

Doaku dari hati yg terdalam,

_catatan harianku, 26-01-12_

Selasa, 24 Januari 2012

Filosofi keriangan anak2 TK (muhasabah)

Dear Dairy....

Hari ini, sebuah pelajaran hidup ku lihat...dan kurasakan...
 
Filosofi keriangan dan langkah2 kecil para murid TK,
Sungguh mendengar keceriaan mereka alangkah indahnya...
 
Pagi ini, ku rapihkan tempat tidur sembari menengok sejenak tawa riang anak2 TK di sebelah rumah yang berbondong2, beramai2 didampingi dan dibimbingi gurunya bernyanyi riang...sambil melangkah kecil menuju jalan...hendak melaksanakan shalat dhuha di masjid...
 
Hmmm, subhanallah...
 
Lalu terlintas pelajaran penting yang patut diambil....
Pikiranpun berlarut, sambil menyegerakan merapihkan tempat tidur...
 
Sesungguhnya, malu rasanya pd  anak kecil yg dg semangatnya mau mengerjakan shalat dhuha...
 
Walaupun terbata2 mau belajar huruf al-Qur’an, walaupun harus berulang2 mau menghafal bacaan shalat, walaupun tak tau apa makna dibalik semua yg ia kerjakan mau belajar...belajar membaca doa sebelum makan...mau belajar bershalawat...mau belajar kalender islamiyah...
 
Sejatinya, kitalah yg harus belajar dari keriangan anak2 kecil, kegembiraan mereka, kesungguhan, dan semangat mereka...
 
Keriangan mereka utk belajar, kegembiraan mereka utk belajar, kesungguhan serta semangat mereka utk belajar...
 
Karena hidup itu belajar..

Kepolosannya dalam mengerjakan...meskipun dg canda dan tawa...tapi tetap mereka jalani...
 
Bisakah kita belajar dari mereka?
 
Belajar tuk mencintai-Nya tanpa alasan? Alasan entah dg perhitungan matematis atau apapun yg menjurus pd kebutuhan mencintai-Nya karena suatu alasan tertentu...
Melakukan shalat...bukan tuk penghargaan...
Melakukan tilawah qur’an...bukan tuk pujian...semata...
 
Tapi cukup karena sebuah alasan yg dirasakan bernama ‘Cinta’ tanpa paksaan, atau alasan logika semata...
 
Murid2 TK melakukan itu semua belajar melakukan shalat, membaca al-Qur’an, membaca doa, melantunkan shalawat...dengan hati yg riang...
 
Malulah diri ini...
 
Melakukan shalat dg menunda2nya, membaca al-Qur’an semaunya, membaca doa terkadang ingat terkadang lupa...bahkan shalawatpun jarang didawamkan terkalahkan oleh lantunan musik...
 
Padahal anak kecil mungkin hanya tau bahwa ia senang melakukannya, tanpa pikir panjang...tanpa ia kenal jauh siapa itu Allah? Siapa itu Rosul? Untuk apa shalat? Untuk apa itu berdoa? Untuk apa bershalawat? Untuk apa mengaji?
 
Justru pertanyaan itu mungkin secara teori...bagi kami para orang dewasa dpt dg mudah menjawabnya....
Tapi bagaimana dg prakteknya?
 
Orang dewasa terkadang lupa...
 
Lupa semangatnya yang dulu semasa kanak2 belajar shalat, belajar membaca al-Qur’an, selalu menyempatkan berdoa sebelum melakukan sesuatu...
 
Keterlupaan orang dewasa yang disibukkan dg beribu2 alasan, pekerjaankah? Organisasilah? Masalah hiduplah? Inilah? Itulah?
 
Hmmm...
 
Waktunya Muhasabah lagi!
 
Mengaku dewasa tapi kecintaan terhadap-Nya tidak lebih dari anak TK?
 
Kemana masa yg telah lalu dijalani...yg seharusnya saat ini, langkah ini...tentulah lebih baik dari kemarin...masa yg telah lalu...
 
Demi masa, sesungguhnya orang yg merugi adalah yg telah menyia2kannya..

 Ayo Berubah dari sekarang...demi masamu yang berharga!

Wassalam.

_catatan harianku, 9-12-11_

Sabtu, 12 November 2011

Tentang Ibu ku...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hmm, malam ini malam minggu...seperti malam-malam biasanya, tak ada yg berbeda...
yang berbeda malam ini kalbuku berkata amat merindukan sesosok wanita yang penuh cinta & kasih, penuh dg kehangatan...Ibuku sayang...

apa kabarmu mah?
rasanya baru saja beberapa hari ku lalui tanpa mu...sudah rindu kembali melanda kalbu...
apalagi ditambah, kabarnya engkau beberapa hari kemarin sakit pusing2, dan nampaknya darah tinggimu kambuh kembali. hmmm...tambah hati ini tak karuan berada di Bandung...
maafkan gita yang hari ini seharusnya pulang...tetapi ternyata hari senin ada panggilan test kerja..

masih teringat jelas hari2 ketika ku bersama mu mah...
rasanya tertoreh dalam di hati dan ingatanku,
tentang kebersamaanku bersamamu,
mencium keningmu tiap malam,
mengelus rambutmu yang kian dihiasi rambut putih,
menyelimutimu disaat tidur,
memelukmu erat disaatku rindu,
membersihkan kupingmu sesekali,
memijit2 kepalamu membersihkan rambutmu dg shampoo,
bercerita, berdiskusi, dan berkeluh kesah bersama...

rasanya ku amat mencintaimu mah...semata2 hanya karena-Nya...
karena ridha-Nya selalu ada bersamamu...


walaupun terkadang,
kata2mu ketika marah menyisit hati,,aku tahu ini karena salahku yg membuat jengkel engkau...
engkau berkomentar dengan ketidaksesuaian atas apa yg ku kerjakan, ketika memasak dg bumbu yg salah, ketika menyapu 'jangan pake sendal, biar kerasa kotornya sama kamu', ketika mengepel 'jangan terlalu basah, sering dibilas jangan cuma asal dipel aja'...
atau ketika sedang merasa lelah 'teh tolong ini dan itu'...aku seharusnya tidak malas berkata 'iya' karena berkata 'aah' pun sudahlah dosa bagiku...
bahkan mungkin ketika apa yg ku alami engkau tak paham jelas bagaimana persaanku, bukannya engkau dengarkan rintihan ini, tapi justru engkau komentari lalu membandingkan dengan orang lain ataupun dgmu,,aku tahu harusnya aku berlapang mendengarkannya anggaplah sebagai koreksi diri...

apapun yg menjadi 'walaupun' tentang mu...AKU TETAP MENYAYANGIMU MAH...

walau bibir ini terkadang salah, perilaku ini salah..dimatamu, aku hanyalah anakmu...seorang manusia yg engkau lahirkan dari rahimmu atas izin-Nya...
anakmu yg engkau kandung, anakmu yg lemah ketika dilahirkan di dunia ini, hanya mampu menangis, tertawa, mungkin marah,,,
anakmu yang belajar berbicara, merangkak, berjalan, seperti yang engkau ajarkan atas izin-Nya..

sedikit demi sedikit ku belajar...
maaf tak menjadi sempurna, sesuai apa yg engkau harapkan...betapapun kerasnya ku menjadikan aku sesuai yg engkau harapkan, mungkin hasilnya kan berbeda...betapapun kerasnya ku mencoba mencintaimu, mengasihimu,,tapi tetap rasa cinta dan kasih sayangmu yang lebih besar ada untukku, karena kasih dan sayangmu sepanjang masa tak kan hilang...

terkadang ku larut dalam lamunan,
jika sewaktu2 Allah SWT panggil engkau terlebih dahulu,
entah apakah aku mampu melalui hidup ini tanpamu mah?
rasanya bagaikan seorang kakek renta, buta, dan lemah yang kehilangan tongkatnya tuk berdiri tegak dan berjalan...menjalani hidup ini dengan meronta2 mengharapkan tongkatnya...
karena setiap apa yg kulakukan terkadang selalu meminta pendapatmu, keputusan yang engkau ambil dalam langkah hidupku selalu menjadi keputusan ku...

bahkan masalah urusan ketika ku melamar pekerjaanpun, seperti apa yang terjadi diakhir2 yg lalu..
berat rasanya ku meninggalkan engkau demi menggapai cita dalam karir...

ketika sang pewawancara menanyakan "apakah siap tuk ditempatkan dimana saja"
lalu tergambar diriku yang letih bekerja sehingga tak sempat memperhatikanmu, mungkin yang ada hanya penyesalan jika itu terjadi...lalu jawabku "tidak, saya siap jika hanya ditempatkan di jawa barat" dengan alasan agar lebih dekat dg keluarga..

ketika ku menguatkan keidealismean untuk mempertahankan engkau dan keluarga yg menjadi prioritas ini padamu, mengapa justru kekecewaan yang tersirat..'jawab aja iya teh padahal' hmmm..loh?
setelah itu baru mulai ku  mantapkan diri tuk mencari pekerjaan yg dg resiko ditempatkan dimana saja...

tapi ketika ku berusaha mencari pekerjaan di Bandung ini, pada nyatanya...
justru engkau malah marah mengapa aku pergi berlama2 di Bandung...

keadaan ini membuatku gamang kembali, jadi aku harus bagaimana yaa Robbi?

maunya ku,
aku bekerja...tapi tetap bersama keluarga..terutama selalu berada di dekat Ibu...selalu membahagiakan mereka...
karena aku ingin bisa berbakti dan berada di dekat keluarga selama masih ada waktuku...
tapi mau bagaimana, hidupku ini sudah ada yg mengaturnya...Ia sang Maha Agung, telah menetapkan pilihan yg menjadi jalan hidupku..dan mungkin kenyaataannya akan berbeda dg yg diharapkan...aku tak tahu kelak yg menjadi pekerjaanku, dan dimana...karena yg hanya mampu kulakukan saat ini berusaha...dan doa tentunya..

tapi ini hidup yg harus tetap dijalani...

apalagi sebelum ku menerima pinangan orang, aku ingin membahagiakan keluargaku...terutama engkau Ibuku...
ingin ku baktikan diri untukmu...
karena sebelum itu terjadi Ridha-Nya bersama dg Ridha-Mu...
namun...setelah ku dipinang, tak mungkin lagi bagiku tuk membaktikan sepenuhnya diriku untukmu, telah bertambah peranku sebagai isteri, dimana ku harus membaktikan lebih banyak waktu pada suamiku kelak, karena Ridha Suamiku kelak akan menentukan pula Ridha-Nya bagiku...


ku syukuri saat ini...
saat dimana ku bersamamu...saat indah..suka...dan duka bersamamu...
ini semua tentangmu Ibuku sayang...

terimakasih, karena engkau yg menjadi ibuku...bukan yg lain...
terimakasih, karena engkau menjadi bagian hidupku...

terimakasih yaa Robbi karena Ia yang engkau pilihkan tuk menjadi pintu syurgaku :)
kuatkan aku...tuk bisa membahagiakannya :)

Terima Kasih :)

Alhamdulillahirrobbil'alamiin...

Wassalam.




Kamis, 06 Oktober 2011

Kesabaran Menguji Diri

Assalamualaykum...
hmmm...

Lagi Lagi coret coret curhat dimulai...

hmmm...ya Robb salah apakah hamba, apa begitu banyak, tak pantaskah aku....
setelah 3 mencoba meng-apply kerja pada 3 PT bank yg berbeda...tiada satupun yg berhasil...
ini langkah pahit yang harus dijalani...
pertama tragedi interview?
kedua bahasa inggris yang tak mahir?
ketiga masih tahap seleksi admin pun tak lolos?

melihat teman2 yang lolos...bahagia melihatnya, tapi ada keraguan dalam diri..
mengapa aku?
apa aku yg terlalu bodoh hingga tak mampu menyeimbangi kemampuan teman2...

mencoba tuk menenangkan diri,
sebegini sulitkah mencari pekerjaan?
apa dibalik do'aku ada yang salah...meminta pekerjaan yg berkah?
yaa robb..tolong aku, 
aku tak mau terlalu banyak hidup setiap harinya dalam kerugian...
kerugian waktuku yg selalu kosong...
aku ingin berubah...bagaimana mungkin aku berharap setiap harinya bisa lebih baik dari kemarin, sedangkan aku hanya selalu duduk manis, berpaku tangan, hanya bersenang2 dengan bacaan buku, internet, ataupun tv, layaknya manusia yang tak berguna...
tolong aku jgn jadikan ilmu yg aku punya ini tak bermanfaat ya robb....

hanya kepada-Mu aku sungguh memohon,
jangan biarkan aku hidup dalam keterpurukan dan kekecewaan seperti ini...

aku ingin bisa berbakti pada orang tua,
setidaknya membuat mereka bangga dan bahagia...tolong aku...
harus ku mulai dari mana mengejar ketertinggalan ku ini?
walaupun orang tua tidak terlalu mendesak untuk bekerja, tapi aku merasa tak berguna dg tdk bekerja...

setidaknya ada sesuatu yg berarti mampu aku kerjakan...ini nihil belaka...
tak mau selalu meminta2 uang pd ortu...bukankah tangan di atas lebih baik yaa Robb??

mengapa rasanya diri ini rendah, 
ini itu tak ada yang patut dan berguna yg bisa ku kerjakan...

ku harus sabarkan diri lagi...
diri ini HARUS KUAT GIT!
Karena bahagia tak akan terasa indah bila tak ada luka yg mengawalinya...
semoga ini awal utk merasakan indahnya kelak...

YAKINKAN DIRI bahwa kamu PASTI BISA MENDAPATKAN PEKERJAAN YANG TERBAIK!!!
Sabar, Pasrah, dan Ikhlas git...
walaupun sulit tapi yakin KAMU PASTI BISA!!!!

Bismillahirrohmanirrohiim (^o^)/ SeMangKA
Semangat...Karena...Alloh SWT...

Wassalam.